Feeds:
Posts
Comments

Hari ini berangkat ke kantor lebih pagi karena ada meeting dengan customer jam 9. Saya sering menyebut kalo meeting kurang dari jam 10 pagi adalah meeting yang tidak manusiawi.

Apalagi meeting kali ini agendannya mau dikeramasi (mau diomelin-omelin), makanya sengaja sebelum tidur tadi malam pesen sama istri untuk bangunin agak pagian.

Dari rumah berangkat sekitar jam 6.30 (gerimis), jalur yang dipakai seperti jalur biasa lewat Grand Wisata, tapi baru keluar komplek sudah macet, seperti biasa para pengendara sepeda motor tidak mau mengalah, saling berebut dan tidak mempunyai rasa hati-hati sama sekali.

Setengah jam kemudian keluar tol Grand Wisata. Mobil sejak kemarin sudah ngak enak  (sudah di-check ternyata di rodanya ada baut yang cukup besar yang menancap di ban kiri depan, sengaja dibiarkan karena kalaudicabut malah bocor…males gantinya).  Melewati Pintu Tol Pondok gede, bayar, langsung tancap gas terus, ambil jalur kanan, salip kiri (sudah kaya pembalap aja). Akhirmnya memtuskan ambil jalur kanan saja, tiba-tiba sekitar 2/3 km sebelum keluar Tol Halim setir rasanya ke kiri terus.

Apa yang dikawatirkan akhirnya terjadi, ban kiri depan kempes. Sangat sulit sekali dari jalur kanan mau pindah jaur ke kiri karena tidak yang mamu memberi kesempatan. pelan-pelan sampai akhirnya berhenti di pemberhentian jasa marga cawang. Lepas baju. Mulai deh dongkrak. akhirnya selesai, buth waktu setengah jam.

Langsung ke customer, meeting udah selesai, susah untuk membuat alasan yang tepat karena pasti tidak percaya, yah sudah cuma cengar-cengir ngak karuan.

Ternyata berangakat pagi belum tentu sampai kantor lebih pagi (jika).

Saya ingin sekali bercocok tanam, terutama tanaman buah lokal yang berkualitas unggul, mulai dari durian, mangga, jeruk, sawo, nangka, kepel, alpukat, pisang mabon, pisang raja, piang kepok.

Minggu kemarin tepatnya hari Jumat, saya dan keluarga pulang ke Purworejo. Tujuannya antara lain karena sudah beberapa kali lebaran saya dan keluarga tidak pulang ke Purworejo, sehingga ingin sowan orang-tua. Saya mencoba pulang ke Puworejo naik Lion Air tujuan Yogyakarta dan minta bantuan adik saya untuk menjemput di Yogyakarta. Kebetulan adik sedang di Wonosobo sehingga di harus berangkat pagi dari Wonosobo ke Yogya untuk menjemput (maaf karena banyak menyusahkan).

Ada beberapa pertimbangan kenapa naik pesawat daripada kereta, awalanya saya berencana naik kereta api, sekalian memperkenalkan kereta api ke Kaka’, tapi saya ingat kalau kereta api kadang (maaf) bau pesing, sedangkan anak saya sangat sensitif terhadap bau (langsung muntah).

Berangkat dari rumah pagi sekali sekitar jam 5.15AM ke Bandara, sampai di Bandara sekitar jam 6.15 dan langsung check-in. Sempat binggung karena ternyata kalau kita menggunkan Lion Air tempat check-in-nya campur, maksudnya kita bisa check-in di counter mana saja (saran saya unutk ke depannya, saran saya sebaiknya check-in counternya dipisah, biar orang yang binggungan seperti saya tidak stress dan ngak pede ketika check-in, walupun saya mengerti dengan menjadikan satu counter check-in untuk semua penenrbangan akan mempercepat process check-in, tapi sekali lagi…kalau orang binggungan seperti saya bagaimana?)

Selama process check-in lancar, terus saya mausk ke terminal A, saya ingin ajak istri sarapan di lounge (ternyata kalau masuk lounge yang di termnal A dengan kartu credit dari Bank XXX harus dipotong point), saya sempat tanya ke istri bagaimana mau sarapan apa tidak, dia bilang belum lapar. Akhirnya langsung aja ke Gate A3, kok yang “dhilalah” boarding pass saya hilang, terpaksa deh harus ke counter lagi untuk minta boarding pass lagi. Pads di counter dan kebetulan disana petugas counternya cewek, waktu saya bilang boarding pass hilang, dia sewot sekali, tanya hilang dimana, saya bilang hilang di lounge, dia bilang kalau di lounge tidak mungkn hilang (saya jadi binggung mau menjawab dan menjelaskan bagaimana, wong saya yang kehiangan kok dia ngeyel ngak mungkin hilang :( sedih campur binggung:-? dan ngakak :) )

Tapi saya maklum sekali, namanya low cost carrier  pasti seperti ini, mungkin budget untuk mengedukasi pegawainya juga low cost juga, jadi mereka tidak bisa melayani customer mereka terutama customers yang sedang memerlukan bantuan. Karena dia tetap ngeyel, saya diam saja (orang bule bilang speechless, wis ra iso ngomong apa2 dan saya kurang begitu suka berdebat). akhirnya di mau kasih juga boarding pass saya. :D ternyata dengan diam bisa juga yahh menyelesaikan masalah.

Masuk ke gate A3, lapor ke petugas. Ketuka lapor saya sempat tanya apakah pesawatnya sudah siap, petugas menjawab bahwa pesawat on-schedule. Saya baru sadar ketika 15 menit sebelum keberangkatan belum anak pengumuman ke penumpang untuk naik pesawat, tidak lama kemudian ada pengumuman bahwa pesata delay 60 menit, kemudia tambah lagi 30 menit (total 90 menit) dengan alasan operasional (kira-kira alasan operasional itu apa yah?).

Akhirnya saya tahu arti on-schedule itu telat 90 menit.

Selama menunggu Kaka’ mulai rewel karena ingin tidur. Kok yah aneh2 yah gaya penumpang yang saya temui selama di Bandara. Ada penumpang tepat di depan saya dengan gaya sangat cuek duduk sandaran (semi-semi tidur) dengan kaki ngangkang (walaupun dia laki-laki tapi saya dan istri juga risih), akhirnya saya pindah tempat duduk.

Karena Kaka’ rewel maka saya gantian dengan istri gendong Kaka’, ketika istri gendong Kaka’ otomomatis kursi kosong, ada orang dengan cueknya duduk padahal saya udah kasih tas dan bilang “Mas, geser dong saya berdua sama ponakan saya” ….hahahaha… kok ngak ada sopan santunnya yah (katanya kita orang timur yang punya sopan santun), mbok nanya dulu “mas kursinya kosong apa ngak?”. Saya geser lalu saya pindah cari tempat yang lain, istri sudah mau marah saja, saya jelaskan bahwa seperti ini keadaannya, harus sabar.

jam 8.45AM, penumpang dipersilahkan naik pesawat, di dalam pesawat karena dengan anak kecil, maka di kasih extention unutk safety-belt dan live vest. Pas mau memakainya Kaka’ rewelnya menjadi-jadi, pramugarinya bilang sabuk pengaman harus dipakai, tidak lama kemudian dia kembali lagi dan bilang begini cara memakainya, kemudia saya katakan ke pramugari dengan intonasi agak tinggi karena saya sudah merasa jengkel dan kesal dengan semua perlakuannya, saya bilang “Saya tahu cara pakainya dan saya tahu kapan saya harus memakinya, anak saya sedang rewel (masih banyak penumpang yang masuk dan mencari tempat duduk, ketika pesawat siap take-off saya pasti memakaikan ke anak saya)”. akhirnya di pergi tanpa kata maaf atau apa. Sekali lagi kecewa dengan pelayannya.

Selama perjalan, ada lagi, karena saya naik di kelas ekonomi maka jarak antar kursi sangat rapat, kok masih ada orang yang tega untuk merebahkan kursinya sehingga saya tidak semakin sempit dan kebetulan orang yang duduk ngangkang tadi di depan saya dan kebetulan lagi kok ya yang merebahkan kursinya teman si bapak ngangkang…hehehe… saya tersenyum kecut menerima kenyataan ini.

Setelah mendarat di Yogya istri tanya ke saya apakah tidak ada penumpang yang complain dengan keadaan tadi, saya bilang sudah ratusan mungkin ribuan yang complain tapi tetap tidak ada perubahan, bagi orang-orang kecil sperti saya dan istri saya yang mempunyai budget pas-pasan tapi ingin menggunakan pesawat, ya seperti itu keadannya.

Monggo, silahkan kalau ada rekan-rekan yang mau berbagi informasi mengenai pesawat murah (mungkin tidak bisa memperbaiki keadaan, tapi paling tidak bisa berbagi informasi sehingga kalau suatu ketika kita mengalaminya kita tidak kaget dan siap secara mental untuk menghadapinya ..hehehe..)) Monggo.

Tidak pernah terbayang sebelumnya ketika saya harus kerja di Jakarta, saya harus berangkat dari kantor sepagi ini. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan berangkat pagi dari rumah karena banyak sekali tetangga-tetangga saya yang berangkat ke kantor lebih pagi dibanding dengan saya.

Bagi saya yang notabene-nya orang dari luar kota, subuh-subuh berangkat ke kantor adalah hal yang istimewa karena tidak pernah saya temui sebelumnya di daerah saya orang berangkat ke kantor sepagi ini, walupun di daerah saya ada banyak profesi yang mengharuskan berangkat kerja sebelum subuh.

Hari ini saya berangkat ke kantor pagi karena ada janji ketemu dengan client jam 10AM. Terus terang sekembalinya saya ke Bekasi, saya merasa bahwa jalan Bekasi-Jakarta sangat macet, saya membutuhkan waktu sekitar 1,5 – 2 jam untuk sampai ke Jakarta. Kemudian hari ini saya coba untuk bernagkat dari rumah jam 5.30AM, dan ternyata Alhamdulillah, jalan masih cukup lancar, koneksi internet di kantor juga maih cukup OK unutk download pathces di PC saya.

Walaupun ada sedikit perasaan malas untuk berangkat pagi, tapi ada juga keuntungannya. dan yang paling penting, InsyaAllah, saya punya waktu lebih banyak main dengan si Kaka’ (karena nanti saya ingin pulang lebih awal).

Jakarta, Here We Come

Sudah sepuluh hari, saya dan keuluarga tiba di Jakarta. Banyak sekali ketemu teman dan dan komentar dari mereka. Komentar pertama datang dari Pak RT (yang kebetulan rumahnya persis di depan rumah kami), Pak RT langsung minta tunggakan iuran bulanan. Banyak sekali yang tanya kepada saya dan istri kenapa balik ke Jakarta, kenapa tidak disana saya, Di sana kan lebih enak, disana kan penghasilannya lebih besar, disana tidak ada macet.

Dari semua pertanyaan itu, semuanya beranggapan bahwa segala sesuatunya di negara lain lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Menurut saya ada beberapa yang benar ada juga beberapa yang salah.

Memang benar disana tidak ada istilah macet dari rumah menuju ke kantor (wong jalan kaki kok, jadi ngak ada macet) kemudian memang secara penghasilan lebih besar disana.

Tapi dari semua kelebihan yang saya katakan diatas tidak merubah keinginan saya maupun istri untuk tetap balik ke Indonesia.

Adapun alasan utamanya adalah istri sudah tidak betah tinggal disana. Kadang saya bisa membayangkan betapa bosannya seharian di rumah hanya dengan anak, tanpa saudara maupun tetannga, jika ingin kemana-mana harus naik taksi, tidak tahu arah kemana2. Menurut saya yang menjadi kendalan utama adalah masalah bahasa. Memang benar di sana mereka menggunakan bahasa inggris tapi dengan cara mereka melafalkan kata-kata sangat berbeda, kadang kita butuh waktu beberapa saat untuk mengerti apa yang mereka omongkan. Selain itu mereka kadang mencampur antara bahasa inggris dan tagalog.

Ini pengalam pribadi yang sering saya temui, kadang mereka melafalkan “FAX” dengan “FAX” (seperti membaca huruf “a” di kata “SATE”).

kadang sangat susah bagi kita membedakan antar BLOCK dan BLACK karena mereka cara mengucapkannya sama.

Ada kalimat yang sering membuat saya tertawa ketika mereka mengatakan “Sir, May I fax you now?”. kemudia saya sering saya jawab “huhhhhh???, Do you want to fax me know?, Could you please do it tommorow, because i have to do some preparation” Coba bayangkan kalau saya mengucapkan kata “FAX” dengan logat mereka “FAX” dan “FUCK” mereka ucapkan sama …..bukan bermaksud jorok tapi itu benar2 kejadian.

Sekali lagi senang rasanya balik ke Jakarta, tapi sayang seribu sayang…..macetnya minta ampun.

Ada satu hal yang menurut saya menarik untuk diamati si Philippine, yaitu harga kebutuhan bayi. Unutk harga Pamper, harga disini lebih mahal dibandingkan harga di Indonesia, tapi untuk harga susu formula harga disini lebih murah.

Sebelum pindah ke sini saya menggunakan susu formula merk Vitalag (satu pabrik dengan SGM, kalau tidak salah pabriknya di Yogya). Setelah pindah kesini Vitalag tidak ada sehingga saya memutuskan untuk menggantinya dengan product local yaitu Procal produksi dari Wyeth.

Sebenarnya Abott bukan produsen local, Wyeth merupakan perusahaan farmasi asal dari US, tapi Wyeth mempunyai pabrik di Philippine (sehingga saya anggap local). Kalau dibandingan dengan Vitalag harga Procal lebih murah.
Saat kembali ke Indonesia kemarin saya mencoba untuk membandingkan harga kedua susu tersebut sangat sajuh (Procal lebih mahal) setelah saya check ternyata Procal yang ada di Carefour ternyata impor dari Philippine.

Kesimpulan saya harga susu formula yang mahal itu beum tentu karena kualitasnya lebih baik, tapi lebih karena biaya impor tax yang tinggi.

Cintailah product Indonesia (tumben rasa nasionalisme saya muncul).

Ketika ramai-ramainya masalah melamine, sangat susah sekali mendapatan list susu formula yang bebas melamine disini. Tapi akhirnya da pengumuman resmi bahwa Procal bebas melamin karena tidak menggunakn susu dari China (padahal saya membatin kalau China dekat sekali dengan Philipine secara grografis

Pernah berpikir apa tidak kalau berkeluarga itu ternyata berat? Sangat berbeda dengan waktu berpacaran. Sewaktu kita berpcaran pada umumnya kita akan menutupi segala kejelekan kita. Akan tetapi jika sudah berkeluarga kita tidak akan mampu lagi menutupi kejelekan kita. satu demi satu kejelekan kita akan dilihat dan muncul. Kejelekan-kejelekan ini lambat (tapi pasti) akan menimbulkan benturan-benturan dengan pasangan kita.
Hal ini saya alamai sendiri. Kadang masalah di keluarga timbul bukan dari dalam tapi justru timbul dari luar, misal dari saudara kita baik orang tua, mertua, kakak, kakak ipar, adik, adik ipar, tetangga, dan lain-lain.
Hari ini saya ada satu ganjlan yang membat saya rasanya sudah untuk tidur. Masalah dengan bapak metua, sebenarnya masalahnya sepele.
Pada dasarnya saya kurang suka jika ada laki-laki yang datang ke rumah saya ketika saya tidak ada di rumah, siapa pun mereka, saya tidak suka. Nah kebetulan kemarin bapak mertua datang e rumah, padahal saya sudah ingin mengatkan ke istri bahwa sebaiknya bapak mertua datangnya setelah saya di rumah, tapi dengan alasan sudah kangen cucunya akhirnya bapak datang juga. Kebetulan pagi-pagi saya telepon ke rumah dan mendengar anak saya menangis. Setiap kali mendengar anak menangis saya merasa stress (saya selalu takut anak saya jatuh atau sakit). Saya tanya ke istri kenapa “si kaka’” menangis, kata istri saya, kaka’ takut sama kakeknya. saya bilang kalau takut jangan dikasih dulu karena anak saya setelah pulang dari Philippine jadi takut orang bahkan kejadian terkahir anak saya takutnya sampai “girap=girap” dalam istilah jawa. saya merasa jengkel kalau anak saya takut sampai menangis karena sebelumnya dia tidak pernah takut atau menangis. Karena kejadian itu saya tegur istri saya.
Mungkn cara menegur saya terlalu keras istri menjadi sakit hati, saya coba telpon lagi dan coba mengingatkan kalau ada yang datang dan kebetulan kena flu jangan boleh gendong karena saya kawatir kaka’ ktularan. Kalau ada diantara teman-teman yang mempunyai anak masih kecil dan terkena flu, anda bisa merasakan bagaimana kasihannya mereka. Hal ini tambah membuat istri saya sakit hati. Saya termasuk temperanmental sehingga say telpon lagi untuk mebicarakan hal tadi, ada satu bagian yang istri saya bilang “Apakah Bapak disuruh pulang aja” dan menurut saya waktu dia mengatkan itu kelihatanya bapak mertua mendengar, akhirnya pagi harinya bapak ngotot minta pulang.
Keadaan semakin memburuk. Sebenarnya saya orang yang tidak suka bertengkar dan mencari masalah. Keadaan in terbawa sampai ke kerja, jadi malas sekali, mau melakukan apa-apa selalu ingat dengan kejadian itu.
Merasa bersalah.

Sebelum pulang kerja, ada teman kantor yang mengajak makan malam bersama-sama dengan orang dari divisi IT. Pada awal rencana, waktu makan malam adalah 7.30pm tadi karena menunggu teman yang belum datang dan ada juga teman yang masih telpon dengan boss-nya akhirnya mundur sampai jam 8.30. Terus pada walanya sudah malas sekali untuk ikut, ingin segera pulang karena ngak enak perasaannya (dari tadi pagi Istri saya kok marah-marah terus). Selain itu dari pagi mata di sebelah kanan berkedu terus dan agak perih.

Karena alasan solidaritas, akhirnya iut juga makan malam. Sebelum berangkat makan malam notebook dan tas sudah disiapkan karena rencanya sehabis makan malam ingin langsung pulang. Selama makan malam tidak ada hal yang luar biasa, ngobrol seperti biasa.

Selesai makan malam langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Selama di perjalanan ada satu hal yang sangat menganggu pikirian saya. Sebelumnya saya mencoba untuk melamar kembali di perusahaan lama dan akhirnya diterima, tapi ada sayu hal yang sangay menganggu yaitu perusahaan saya lama ingin saya bergabung pada petengahan December, sedangkan di perusahaan saya sekarang saya harus one month notice, artinya saya bisa bergabung akhir December. Perusahaan saya yang lama tetap bersikeras untuk joint pertenaghan December, intinya ya apa tidak.

Beberapa hari terakhir ini, hl itu sangat menganggu saya. Hari ini saya ingin sampai rumah berdiskusi dengan istri mengenai hal ini. Apakah diterima apa tidak. Saya ingin mendaatkan pertimbangan dari istri karena ini berkaitan dengan masa depan saya, dia, dan anak saya.

Sampai di rumah istri sedang setrika, saya tanya si Kakak dimana kok ngak ada suaranya, dia biang kakak tidur. Saya bilang ayah ingin diskusi apakah dia lelah apakah ngak kalau diajak diskusi. Saya mulai cerita menegani permasalah apa yang saya alami saat ini. Sambil setrika dia bilang terserah.

Inilah kata-kata yang paling tidak saya sukai ‘terserah’, saya bilang apakah dia lelah, kalau lelah diskuinya nanti saja, tidak ada jawaban apapun. Akhirnya dia ke kamar karena anak saya bangun. Saya tunggu setengah jam, tidak keluar dari kamar juga, ternyata dia tidur.  Saya merasa kecewa, ketika saya membutuhkan teman diskusi dan menurut ternyata dia tidur dengan tidak ada kata satupun keculai “terserah”. Apakah kalau saya marah itu pantas jika mendapatkan perlakuan seperti itu? Apakah semua perempuan terutama istri seperti itu?

Saya mencoba untuk sabar, saya merasa permasalahan ini bukan cuma untuk saya, tetapi untuk saya, dia, dan anak kita dan karena sudah berkeluarga maka selayaknya harus didiskusikan bersama. Ternyata saya tidak cukup sabar, saya marah dan saya bangunkan istri saya, saya hanya bilang jangan salahkan laki-laki kalau mereka lebih terbuka kepada orang lain dibandingan dengan istri sendiri, jangan salahkan laki-laki kalau suatu saat mereka menyeleweng. Saya bilang itu karena keluarga saya mengalami hal itu, dahulu mungkin bapak saya juga mengalami hal yang sama yang saya alami saat ini.

Saya mencoba untuk melupakan hal itu denga menyalakan komputer dan mencoba untuk bekerja, tapi istri saya marah dan tidak berhenti.

Seperti api yang disiram minyak, akhirnya saya terpancing juga.

JJIN&^$*U)NHK)%&%&%)!”{+)+UM

selesai dengan tangisan.

Masih pusing dan jengkel….pusing……….Jengkel

Saat ini saya sedang menunggu email mengenai masa depan saya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya membuka inbox saya, tapi email yang saya tunggu tidak datang-datang. Rasanya tanpa email itu saya ngak bisa kerja, semunya tergantung sekali dengan email tersebut, tapi kok sampe beberapa menit yang lalu email yang saya tunggu belum masuk juga,yah? apakah orang yang saya kirimi email sebelumnya belum menerima email saya (banyak sekali tanda tanya)

Sudah beberapa hari ini saya tidak sholat subuh karena lewat. Sebenarnya saya ingin langsung sholat tapi sudah terang sekali. Saya sudah pernah baca kalau kita terlewat sholat subuh itu sebenarnya adalah rejeki, orang tertidur itu tidak ada hukumnya, tapi ketika kita terbangun jam berapa saja langsung sholat, insyaallah sholat kita diterima (hehehe..yang ngak terlambat aja belum tentu diterima).

Sebenarnya penyebab saya bangun kesiangan karena malamnya saya tidur malam sekali (pagi jam 2 atau jam 3) sehingga pas jam 5, tidur saya pas pulas-pulasnya dan mungkin ditambah rasa malas untuk bangun.

Mulai hari ini usahakan jangan sampai terlewat lagi sholatnya.

Older Posts »